<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8892640079905948717</id><updated>2011-04-21T12:23:01.554-07:00</updated><category term='ncusz love'/><category term='ncusz love 2'/><title type='text'>ncuz blog...!!!</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ncussanz.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8892640079905948717/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncussanz.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>ncuz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15112600313162650326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_xHMu44ma_oc/SCQrOEreAqI/AAAAAAAAAAM/1gGG9n4LUt0/S220/ncuz.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>2</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8892640079905948717.post-8498388100206507919</id><published>2008-05-09T04:02:00.000-07:00</published><updated>2008-05-09T04:05:19.014-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ncusz love 2'/><title type='text'>Lanjutan ncusz Love</title><content type='html'>&lt;div  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;             Bisa dikatakan, film AADC berjasa membangunkan dunia perfilman              Indonesia dari tidurnya. Maunya film ini mempertontonkan kehidupan              kelompok atau geng remaja perempuan (Cinta, Maura, Milly, Alya dan              Karmen) yang bebas dari tekanan orang tua, guru-guru di sekolah,              juga teman-teman laki-laki; sebuah eksklusivitas sosial remaja              perempuan yang sudah biasa. Tetapi kenapa film-film atau sinetron              yang menyusul sukses film AADC mengambil cerita cintanya saja. Atau              film AADC-lah yang sengaja mengangkat posisi cinta? Membingungkan.              Sebut saja film Eiffel... I’m in Love (EIiL) besutan Nasri Cheppy,              30 Hari Mencari Cinta garapan Sutradara Upi Avianto, Sinetron Cinta              SMU, Kalau Cinta Jangan Belagu, dan Inikah Rasanya. Semuanya              bertemakan remaja metropolitan dan tentunya tentang percintaan              mereka.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;             Berkali-kali salah satu pabrik rokok menyindir, ”Kalau memang cinta              itu buta, buat apa ada bikini”, tapi para produser tidak tersindir              sedikit pun untuk terus menggarap film atau sinetron bertemakan              cinta. Para penonton juga tidak kapok-kapok menyimak cerita cinta.              Malah, perkembangan sinetron-sinetron yang bertemakan cinta semakin              menggila. Sekarang, cinta sudah dibuktikan adanya (dalam cerita              sinetron) oleh anak-anak usia SD yang sedang lucu-lucunya. Mungkin              besok ada sinetron khusus untuk anak-anak usia TK berjudul ”cintaku              ketahuan bu guru!”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;             Tentunya ini bukan saja permasalahan konsumerisme. Kegemaran              generasi muda menyaksikan film-film bertemakan cinta bukan hanya              karena pihak produser pintar memasarkan produknya. Kalau Ariel              Heryanto mengatakan bahasa menunjukkan bangsa, maka kegemaran              generasi muda menyaksikan film-film cinta menunjukkan, ya              demikianlah mereka. Mempersoalkan lebih dahulu mana antara sutradara              dan alur cerita, sama dengan berpusing-pusing memikirkan lebih              dahulu mana telur dengan ayam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;             Yang fakta, selain mata pelajaran wajib, di sekolah-sekolah dan              perguruan tinggi ada pelajaran ekstrakulikuler bernama ”jadian” dan              ”putus”, kalau dulu disebut pacaran. Bahkan demi pelajaran itu,              seorang siswa berani mbolos, kalau perlu pindah atau putus sekolah.              Yang mahasiswa bisa beralasan, buat apa kuliah kalau tidak menjamin              kerja. Malam Minggu yang sedianya disiapkan khusus untuk              beristirahat dari belajar semingguan, malah menjadi malam yang              panjang, mendalami pelajaran ekstrakulikuler tadi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;             Ada apa dengan generasi muda bangsa Indonesia? Gosip percintaan              artis mulai ketika syuting, bulan madu, sampai ”keputusan” mereka,              dihafalkan habis dan sebagai bahan diskusi di sekolahan atau kampus.              Yang mendukung itu, karena pada saat memencet-mencet tombol remote              control stasiun televisi, ”gosip” yang satu ini pasti ada. Yang              sudah menikah (Rama dan Shinta tadi, atau ayah dan bunda), tidak mau              ketinggalan ”wacana” menggosipkan itu saat berada di angkutan umum,              obrolan basa-basi dengan rekan kerja di kantor atau sawah, dalam              pertemun akhir tahun wali murid dan kepala sekolah, sampai di acara              arisan partai.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;             Tidak apa, demikianlah tentang cinta.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;             Kalau boleh berpendapat, daripada capai-capai membincangkan moral              bangsa Indonesia, lebih baik memikirkan cinta. Keduanya sama-sama              tidak bisa dijelaskan sejelas-jelasnya di era              materialisme-positivisme, juga sama-sama menimbulkan masalah. Tetapi              kata cinta lebih akrab di telinga generasi muda bangsa Indonesia.              Mungkin banyak yang tidak mengerti apa itu moral dan siapa yang              paling tidak bermoral di antara kita, tetapi generasi muda mana yang              tidak mengerti arti sebuah cinta. Tepatnya, mereka lebih              berpengalaman soal cinta daripada soal moral. Bukankah pengalaman              adalah pintu pertama untuk melakukan serangkaian percobaan ilmiah              dan teknologi? Pengalaman mereka dalam ”bercinta” adalah modal utama              untuk membahas kehidupan mereka di masa depan dan (kalau perlu) masa              depan bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;             Dan, oleh sebab cinta diyakini tidak pernah bisa dijelaskan dengan              kata-kata, yang menjadi pe-er bukan lagi AADC tetapi di balik              menjadi DCAA (Dengan Cinta Apa Ada) bangsa Indonesia yang adem ayem              gemah lipah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo? Sekali lagi,              karena cinta segalanya menjadi mungkin&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8892640079905948717-8498388100206507919?l=ncussanz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncussanz.blogspot.com/feeds/8498388100206507919/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8892640079905948717&amp;postID=8498388100206507919' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8892640079905948717/posts/default/8498388100206507919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8892640079905948717/posts/default/8498388100206507919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncussanz.blogspot.com/2008/05/lanjutan-ncusz-love.html' title='Lanjutan ncusz Love'/><author><name>ncuz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15112600313162650326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_xHMu44ma_oc/SCQrOEreAqI/AAAAAAAAAAM/1gGG9n4LUt0/S220/ncuz.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8892640079905948717.post-4047573080170426539</id><published>2008-05-07T03:43:00.001-07:00</published><updated>2008-05-09T03:59:05.835-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ncusz love'/><title type='text'>ncusz love</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Dengan Cinta Apa              Ada?&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;             Cinta sering membuat orang tidak habis pikir. Keberadaannya              misterius, sama seperti terorisme. Tetapi, karenanya segalanya              menjadi mungkin. Orang bisa terbang ke langit tujuh, juga bisa              terjun bebas dari gedung lantai tujuh. Sampai-sampai ada peringatan              Hari Valentine 14 Februari, hari cinta seluruh dunia! Entahlah…. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;             Tidak mudah memberikan kesimpulan tentang cinta. Orang, buku, atau              film memberikan pengertian yang berbeda tentang cinta. Ada yang              mengatakan cinta itu buta, gombal, seks, dan seterusnya. Erich Fromm              dalam The Art of Loving mengatakan, cinta itu seni maka butuh              pengorbanan, kesabaran, konsentrasi, dan –yang terpenting–              kematangan pribadi. Dengan penuh percaya diri, Megan Tresidder dalam              The Handbook of Love menjelaskan bahwa tanpa disadari pola-pola              cinta telah mempengaruhi perilaku keseharian manusia. Dan (memang)              cinta hanya bisa dimengerti oleh yang empunya cerita, yang pernah              mengalamainya. Ia selalu hadir berbeda-beda menyertai amukan badai              zaman. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;             Pastinya, cinta yang disebut-sebut kali ini bukan sembarang cinta.              Yaitu cinta suci antara laki-laki dan perempuan; cinta yang biasanya              dimiliki oleh kaum muda-mudi, katakanlah Romeo dan Juliet, bukan              Rama dan Sinta yang telah beranjak tua. Yang terahir ini lebih fokus              mengurusi masa depan anak-anak. Kalaupun masih ada cerita cinta di              antara mereka, paling tidak kisarannya antara selingkuh, madu,              tua-tua keladi, dan seterusnya. Jika diceritakan sudah tidak menarik              karena tiada lagi istilah cinta suci atau first love never dies.              Makanya berbicara cinta tidak bisa terlepas dari lika-liku kehidupan              remaja. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;             Atau bisa dibaca sebaliknya, kehidupan remaja bisa diamati dari              bagaimana cara mereka bercinta? Mungkin itu lebih tepat dialamatkan              untuk cinta yang ada di buku-buku sastra, layar kaca atau pentas              seni cerita. Karena kisah cinta adalah ritual dan harus dituturkan              bersamaan dengan kisah-kisah kehidupan yang lain. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;             Atau juga bisa dibaca sebaliknya, kisah cinta adalah kisah kehidupan              remaja yang sebenarnya. Yang ini, paling tepat dialamatkan untuk              film-film atau sinetron Indonesia yang bertemakan cinta. Karena              Indonesia dengan karakteristiknya yang unik, berbeda sama sekali              dengan negara-negara lain di dunia? Bangsa India yang terkenal gemar              sekali mengampanyekan ”cinta dapat mengubah segalanya”, tidak selalu              menempatkan cinta sebagai cerita utama dalam film-filmnya. Umumnya,              cerita cinta oleh film-film India adalah sekadar ritual yang harus              disertakan dalam menceritakan kedunguan polisi, kebejatan sistem              hukum dan pemerintahan, penjahat yang selalu dikalahkan oleh ”sang”              penegak kebenaran, atau dalam rangka mempromosikan bagaimana              idealtipe budaya India kepada dunia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;             Apalagi film-film ek-sen bergaya Amerika. Yang pasti, percintaan              dalam film James Bond dan sejenisnya hanyalah pemanis cerita              utamanya, misalnya, keberanian dan kemenangan jagoan, serta              kecanggihan teknologi di era modern. Singkatnya, cinta menurut orang              Amerika adalah –meminjam bahasa remaja Indonesia– cerita indah namun              tiada arti. Yang berarti adalah cerita utama yang besertaan dengan              cerita cinta itu. Dan memang seharusnya demikian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;             Bagaimana dengan Indonesia, cerita cinta menjadi kisah utama? Ada              yang kembali beralasan, cerita cinta hanya sebagai pengantar cerita.              Tetapi, kenapa hanya cerita cinta di perkotaan saja? Wajar saja,              karena para produser Jakarta yang berdatangan dari daerah-daerah              sudah cukup bangga mempertontonkan problematika dan atau              kemajuan-kemajuan yang ada di kota metropolitan Jakarta, yang tidak              ada di daerah mereka? Dalam rangka mengejar status modernitas,              mereka tidak bangga mempertontonkan apa-apa yang berada di daerah              mereka?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;             Kembali kepada remaja. Anehnya, film atau sinetron yang bertemakan              ”murni” cinta justru paling digandrungi. Remaja Indonesia bagian              mana yang belum pernah menyaksikan film Ada Apa dengan Cinta (AADC),              yang jelas-jelas memakai judul ”cinta”? Lagi pula sudah              disinetronkan, ceritanya sengaja diperlama menuruti kebutuhan jam              tayang, menyusul sukses cerita asalnya ditepuktangani para penonton.             &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8892640079905948717-4047573080170426539?l=ncussanz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncussanz.blogspot.com/feeds/4047573080170426539/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8892640079905948717&amp;postID=4047573080170426539' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8892640079905948717/posts/default/4047573080170426539'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8892640079905948717/posts/default/4047573080170426539'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncussanz.blogspot.com/2008/05/blog-post.html' title='ncusz love'/><author><name>ncuz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15112600313162650326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_xHMu44ma_oc/SCQrOEreAqI/AAAAAAAAAAM/1gGG9n4LUt0/S220/ncuz.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
